Beriman pada qada dan qadar bukan berarti berhenti berusaha dan pasrah dengan semua alur kehidupan. Justru mengimani qada serta qadar artinya menerima takdir dengan ikhlas sambil terus tawakal dan ikhtiar.
Oleh sebab itu, pemahaman qada serta qadar tidak boleh setengah-setengah. Patut dipelajari pemahamannya dasar, konsep, serta cara menerima takdir secara ikhlas sambil terus usaha dengan baik.

Pengertian Qada dan Qadar
Mengimani qada serta qadar adalah rukun iman keenam dalam Islam. Qada artinya ketetapan Allah yang sudah ada sejak semua hal belum tercipta. Sedangkan qadar adalah realisasi dari ketetapan itu sesuai waktu dan ukuran.
Pada dasarnya, qada serta qadar adalah takdir dari Allah yang wajib diimani muslim. Pembagian takdir sendiri juga sudah jelas, ada takdir muallaq yang bisa diikhtiarkan, serta ada takdir mubram yang sudah punya ketetapan mutlak.
Untuk memahami konsep qada dan qadar secara benar, maka umat harus punya fondasi kepercayaan dan keikhlasan yang besar. Mengimani qada serta qadar artinya percaya, tapi tetap berusaha semaksimal mungkin.
Akan sangat berbahaya bagi seorang umat jika memahami takdir sebagai sesuatu yang tidak bisa diusahakan. Jika demikian, maka akan muncul sikap pasrah tanpa usaha yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Cara Menerima Takdir Tanpa Berhenti Berusaha
Untuk bisa menerima takdir dan ketetapan Allah SWT tanpa berhenti berusaha, maka ada beberapa cara dasar. Setidaknya empat cara ini bisa diamalkan seorang muslim agar terhindar dari rasa pasrah tanpa usaha:
1. Meyakini Bahwa Takdir Allah yang Terbaik
Cara menerima qada dan qadar yang pertama adalah dengan meyakini bahwa semua takdir Allah adalah yang terbaik. Berprasangka baik kepada Allah atau husnuzan adalah langkah paling dasar yang harus tertanam.
Saat sudah yakin bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik, maka proses penerimaan akan lebih mudah. Cara ini juga bisa melatih kesabaran dan kelapangan dada saat ada ujian besar datang.
Pada dasarnya pengetahuan manusia sangat terbatas. Sedangkan apa yang Allah lakukan mencakup semua hal termasuk masa depan. Hal ini wajib menjadi kesadaran semua umat agar bisa menerima takdir.
2. Ubah Cara Pandang Terhadap Musibah
Agar terus menjalankan ikhtiar dan tawakal tanpa putus, maka perlu untuk mengubah cara pandang terhadap musibah. Sebuah musibah yang datang bukanlah sebuah hukuman, tapi ujian yang bisa menggugurkan dosa.
Mengubah cara pandang ini sebenarnya tidak sulit. Pilihan paling mudah adalah dengan mengalihkan pertanyaan “Kenapa ini bisa terjadi?” menjadi “Apa yang sedang Allah ajarkan dari kejadian ini?”.
Proses ini bisa menjaga mental setiap individu. Jika hanya larut pada musibah tanpa melihat pelajarannya, maka akan ada perasaan menyesal di kemudian hari. Hal buruk juga bisa terus masuk saat pikiran selalu negatif.
3. Bangun Fondasi Doa dan Dzikir
Implementasi dari penerimaan qada dan qadar juga bisa dengan cara membangun fondasi doa serta dzikir. Peran doa sangat besar sebagai alat untuk menerima takdir serta mengubah jalan yang memang bisa diusahakan.
Mengingat konsep takdir dalam Islam adalah yang bisa berubah, maka perlu doa untuk menguatkan jalannya. Rutinitas berdzikir juga bisa menjadi fondasi lainnya agar hati tidak mudah goyah.
Menggabungkan usaha fisik serta kekuatan doa kepada Allah akan memberi keseimbangan yang baik. Penerimaan takdir juga bisa lebih mudah tanpa harus mengorbankan usaha yang harus berjalan.
4. Melakukan Muhasabah
Hubungan qada dan qadar dengan hidup manusia memang sangat besar. Untuk itu, menghadapi qada serta qadar juga harus berimbang dengan muhasabah. Definisi muhasabah adalah evaluasi diri atas musibah yang terjadi.
Tiap individu perlu menemukan hikmah atas takdir yang terjadi, serta mencari celah perbaikan yang sesuai syariat Islam. Muhasabah bisa menjadi pijakan untuk menyusun ikhtiar baru.
Proses menerima takdir dengan ikhlas memang tidak mudah. Perlu kejujuran pada diri sendiri dan menerima kekurangan yang ada. Melalui hal ini, maka keyakinan baru akan muncul tanpa harus berlarut-larut dalam rasa duka.




Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pandangan dengan santun.